Hay kamu, apa kabar? Kamu adalah seseorang yang pernah hadir dalam
hidupku. Mungkin buat aku, kamu adalah wanita pertama yang buat aku
susah buat melupakanmu. Saat aku bersamamu, aku pernah berharap, aku dan
kamu adalah cinta sejati. Saat kita bersama, berapa waktu yang kita
habisakan bersama? Menikmati setiap detik yang terus berjalan.
(Mungkin) saat kita bersama, kita telah menyimpan harapan indah. Dan harapan indah itu kenangan. Iya, bagiku semua itu akan menjadi kenangan. Kenangan yang suatu saat bisa kita kenang. Meskipun kita tak bersama. Semakin lama aku denganmu, semakin aku takut akan kehilanganmu. Semakin aku memiliki rasa dan keyakinan bahwa kamu adalah yang terbaik buat aku.
Entahlah.. Aku sendiri juga tak tahu ini rasa apa. Tapi.. aku selalu rasakan apa yang terjadi dengan kamu. Namun, semua itu berubah! Janji manis untuk setia, komitmen untuk indah, menjadi pengkhianatan yang menghancurkan segalanya. Aku dan kamu tidak lagi menjadi KITA. Kamu memilih kebahagiaan kamu sendiri, memilih orang lain dibanding aku yang telah berkorban hanya untuk kebahagiaan kamu. Tapi buat aku, apapun yang terjadi dengan KITA, aku selalu mendoakan yang terbaik buat kamu. Semoga kamu benar-benar bahagia diluar sana sekarang. Aku tahu, cinta memang tak harus memiliki.
Sekarang saatnya untuk rela agar tak ada lagi sesalan. Sekarang saatnya belajar maaf agar tak ada lagi bara dendam. Namun, kau tak perlu menjadi lupa, hanya perlu ikhlas menerima. Sekarang maaf untuk memori tentang dosaku kamu menangis. Maaf untuk lagu lama kita yang tak kunjung bosan aku ulang. Maaf untuk panggilan sayang yang samar masih terdengar. Celakanya, maaf untuk aku yang terjebak diri dalam jeruji perhatian. Biarkan saja pedihku leleh hingga ada orang lain menyecapnya seperti seduhan teh. Sementara kamu, tak perlu peduli. Kamu hanya cukup dan harus menjadi bahagia, setidaknya tepati janjimu. Ya, mungkin masamu membahagiakanku telah lewat. Karna kelak, aku akan jatuh cinta lagi pada orang yang mampu membulihkan binar mataku, saat mendengarkannya bercerita, seperti kamu dulu.
(Mungkin) saat kita bersama, kita telah menyimpan harapan indah. Dan harapan indah itu kenangan. Iya, bagiku semua itu akan menjadi kenangan. Kenangan yang suatu saat bisa kita kenang. Meskipun kita tak bersama. Semakin lama aku denganmu, semakin aku takut akan kehilanganmu. Semakin aku memiliki rasa dan keyakinan bahwa kamu adalah yang terbaik buat aku.
Entahlah.. Aku sendiri juga tak tahu ini rasa apa. Tapi.. aku selalu rasakan apa yang terjadi dengan kamu. Namun, semua itu berubah! Janji manis untuk setia, komitmen untuk indah, menjadi pengkhianatan yang menghancurkan segalanya. Aku dan kamu tidak lagi menjadi KITA. Kamu memilih kebahagiaan kamu sendiri, memilih orang lain dibanding aku yang telah berkorban hanya untuk kebahagiaan kamu. Tapi buat aku, apapun yang terjadi dengan KITA, aku selalu mendoakan yang terbaik buat kamu. Semoga kamu benar-benar bahagia diluar sana sekarang. Aku tahu, cinta memang tak harus memiliki.
Sekarang saatnya untuk rela agar tak ada lagi sesalan. Sekarang saatnya belajar maaf agar tak ada lagi bara dendam. Namun, kau tak perlu menjadi lupa, hanya perlu ikhlas menerima. Sekarang maaf untuk memori tentang dosaku kamu menangis. Maaf untuk lagu lama kita yang tak kunjung bosan aku ulang. Maaf untuk panggilan sayang yang samar masih terdengar. Celakanya, maaf untuk aku yang terjebak diri dalam jeruji perhatian. Biarkan saja pedihku leleh hingga ada orang lain menyecapnya seperti seduhan teh. Sementara kamu, tak perlu peduli. Kamu hanya cukup dan harus menjadi bahagia, setidaknya tepati janjimu. Ya, mungkin masamu membahagiakanku telah lewat. Karna kelak, aku akan jatuh cinta lagi pada orang yang mampu membulihkan binar mataku, saat mendengarkannya bercerita, seperti kamu dulu.
No comments:
Post a Comment